Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Indah Susanti saat menyelam di Pulau Bangka. Foto: dok Indah Susanti.
Sebagai negara kepulauan terbersar, Indonesia memang kaya akan surga bawah lautnya. Di Provinsi Sulawesi Utara, diantara dua destinasi menyelam terkenal dunia yakni Bunaken dan Selat Lembeh, terdapat sebuah pulau bernama Bangka yang tak kalah mempesona (pulau Bangka masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara). 

Hampir seluruh wilayah pesisir Sulawesi Utara memang terkenal mengesankan dengan pesona keanekaragaman hayati di laut, dan hutan tropis didaratan serta satwa endemik yang unik seperti primata Tarsius dan Yaki (macaca nigra). Namun, pulau indah ini kini menghadapi ancaman: keputusan yang dibuat oleh pemerintah daerah untuk menambang dua per tiga dari pulau kecil seluas 4700 hektar ini dengan dukungan investasi perusahaan China, mengancam sumber penghidupan penduduknya dimana mayoritas mata pencaharian mereka adalah nelayan. Dikhawatirkan juga bahwa pertambangan akan menghancurkan keberadaan serta habitat flora dan fauna endemik di pulau serta keanekaragaman hayati bawah lautnya.

Pulau bagi pecinta fotografi makro.!

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Brown Coral Crab. Foto: dok Indah Susanti
Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Mantis Shrimp. Foto: dok Indah Susanti
Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Nudibranch. Foto: dok Indah Susanti
Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Pink Hippocampus Bargibanti. Foto: dok Indah Susanti
Saat itu hujan ketika kami mulai penyelaman pertama kami di Dive Site Tanjung Hisu Dua. Aku merasakan kehangatan tropis laut Sulawesi ketika aku memasuki air. Dolfie Bawole, pemandu menyelam kami, mendahului di depan, menceburkan diri ke arah dinding karang. Aku terjun dan mengikuti dia sampai pada kedalaman 20 meter, maka kami menemukannya. Seekor kuda laut kecil berwarna coklat gelap, dengan ekornya yang mengait pada alga berwarna kehijauan: a pygmy seahorse severn! Aku tidak pernah menyadari dalam kenyataan betapa kecilnya dia. Masih di spot yang sama, Dolfie juga menunjukkan kami mahkluk kerdil kedua, dua bargibanti, berwarna merah muda mengaitkan diri pada karang gorgonian.

Ada tiga spesies kuda laut kerdil yang dapat ditemukan di Pulau Bangka: Pontoh, Severnsi dan Bargibanti. Dengan ukuran kurang dari dua cm, maka hampir mustahil untuk menemukan pygmy seahorse tanpa bantuan seorang pemandu menyelam berpengalaman. Saya telah membaca bahwa mahkluk kerdil itu sensitif terhadap sorot lampu kamera, karena itu saya membatasi diri untuk mengambil maksimal lima foto dan itupun pada tingkat pencahayaan terendah. Sungguh, memang tidak mudah untuk mengambil gambar selebriti kerdil ini yang terus menunjukkan punggungnya pada pengagum mereka.

Selain kuda laut kerdil, Dolfie sedang bersemangat menunjukkan kepada kami berbagai nudibranch (Nudibranchia adalah kelompok siput air terbesar dari ordo Opisthobranchia. Anggotanya lebih dari 3.000 spesies. _ wiki). Beberapa diantaranya berukuran kurang dari 1 cm dan yang terbesar dengan ukuran hampir 10 cm. Untuk pertama kalinya aku melihat Bornella Anguilla, nudibranch dengan bintik mata hitam dan pola mosaik merah pada tubuhnya yang membuatnya tampak seperti naga kecil. Selain itu, kami melihat banyak hewan alien yang tampak seperti udang marmer, lobster jongkok berbulu, dan udang mantis. Sementara itu, eel moray (belut), crocodile fish dan scorpion fish juga dapat dilihat hampir di setiap situs penyelaman yang kami kunjungi.












Sebuah pulau dengan pemandangan bawah laut yang unik.!

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Ada pantai landai berpasir putih di Pulau Bangka,
tepatnya di Desa Libas, Likupang Timur Minahasa Utara.
Foto: Yuris Triawan
Pemandangan bawah air di situs menyelam Sahaung telah membuat saya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di masa lalu. Ketika memasuki situs menyelam yang indah ini, kami disambut oleh gerombolan ikan fusilier. Kami selanjutnya menuju ke dataran tinggi yang luas di bawah air, yang tampak mirip dengan langkah-langkah di lantai kuil Buddha dan formasi dinding batuan yang mirip dengan batu bata kuno. Pada akhirnya, kami menemukan karang berbentuk meja besar yang seolah membuatnya sebagai meja altar candi di mana bayi hiu menyembunyikan diri di bawahnya. Semakin nyata ketika menyaksikan bentang alam tersebut untuk pertama kalinya, rasanya hampir tidak percaya bahwa itu terbentuk secara alami.

Dive site Batu Gosok juga menawarkan pemandangan yang menarik, menyaksikan bagian puncak curam yang menonjol dari dalam laut ke permukaan. Arus di situs penyelaman ini bisa sangat kuat. Namun, ada beberapa ruang di antara dinding karang di mana penyelam bisa berlindung dari arus. Bagian dari bentang alam dan situs menyelam yang menakjubkan yang menghadap ke tebing berbatu dan lanskap hijau.

Sebuah pulau di mana spesies yang terancam punah hidup.!

Beberapa bagian dari pulau, seperti Dive Site Lihunu Garden, memiliki lapangan rumput laut yang luas, yang merupakan sumber makanan satwa langka seperti dugong/duyung. Meski kami tidak melihat satupun dugong selama kami menyelam, nelayan Bangka dan para pemandu selam sudah pernah melihatnya. Menurut Ulva Takke, pemilik Mimpi Indah Resort, dugong bisa terlihat disekitar pulau tiga hari sebelum bulan purnama atau saat air sedang jernih.

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Salah satu resort yang ada di pulau Bangka.
Foto: Yuris Triawan
Mimpi Indah Resort, adalah sebuah eco-resort di mana saya menginap dengan pasangan saya, letaknya di sebelah hutan. Para tamu pun dapat menyaksikan langsung hewan-hewan endemik pulau selama mereka menginap. Dua kali kami melihat Tarsius, dan selalu hal itu terjadi didekat dapur saat makan malam. Aku yakin Tarsius itu tertarik pada aroma lezat makanan Indonesia dari dapur. Kadal terbang, tupai dan kepiting juga dapat ditemukan di sekitar resor. Resor ini juga memiliki "biawak" yang terus berenang bolak-balik di sebuah sungai kecil di tengah-tengah taman resort. Secara keseluruhan, flora dan fauna di pulau Bangka pastinya unik.


Pulau indah ini berada dalam ancaman.!

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Spanduk penolakan tambang terpampang di salah satu rumah warga Pulau Bangka. Foto: dok Indah Susanti
Sulit untuk membayangkan Pulau Bangka dan bawah lautnya akan menjadi apa jika penambangan dimulai. Izin pertambangan bijih besi yang dikeluarkan oleh Bupati Minahasa Utara akan merelokasi dua dari empat desa di pulau tersebut. Kawasan tambang juga akan mengambil alih beberapa bagian dari hutan hujan lindung di pulau ini. Saya bukan ahli pertambangan tapi aku bisa membayangkan jika perusahaan menggunakan metode dengan peledakan bantalan batuan yang mengandung bijih besi, cara penambangan yang umum dikenal pada tambang terbuka, konsekuensinya akan menjadi bencana bagi sebuah pulau kecil seperti Bangka. Selama musim hujan, sedimentasi tanah akibat proses peledakan akan turun ke laut dan mungkin menutupi karang dan hamparan rumput laut, sumber kehidupan bagi ikan, serta dugong dan biota laut lainnya.

Penolakan pertambangan telah lama disuarakan melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter. Seorang penyanyi rock terkenal Indonesia, Kaka Slank, yang juga telah menyelam di Pulau Bangka, mengambil langkah untuk melindungi pulau dan mata pencaharian nelayan. Ia mengorganisir petisi dengan dukungan dari Change.org, Greenpeace, Walhi dan LSM lokal, Tunas Hijau dan LMND untuk menolak pertambangan. Meskipun menghadapi banyak penolakan, pemerintah daerah tampaknya mengabaikan mereka dan akan tetap melanjutkan rencana pertambangannya. Jika Anda ingin menghentikan rencana tambang tersebut, silakan menyuarakan keprihatinan Anda melalui petisi Kaka Slank di halaman ini: Save Bangka Island Petition. 

Perjuangan untuk melindungi pulau ini belum berakhir, itu akan berlanjut sampai pemerintah daerah menghentikan rencana pertambangan.


Artikel ini ditulis oleh Indah Susanti dalam blog pribadinya indahs.wordpress.com.

Text & Photos by Indah Susanti (c) indahs

Pulau Bangka dibawah Ancaman Tambang (Catatan seorang Penyelam)
Jala milik nelayan lokal pulau Bangka. Foto: dok Indah Susanti

Versi Asli dalam Bahasa Inggris

Bangka Island: An Island under Threat
In Indonesia, North Sulawesi Province, between of two famous diving destination Bunaken and Lembeh Strait, there is an island called Bangka (Regency of North Minahasa). The entire coastal area of ​​North Sulawesi is known for its impressive marine biodiversity, terrestrial of tropical forests and unique native animals such as tarsier monkey. Yet, the island is facing a threat: a decision made by the mainland government to mine two third of the 4700 hectares island with support of Chinese company’s investment, threatening the livelihood of its residents whose majorities are fishermen. It is feared that the mining will destroy the existence of its unique flora and fauna terrestrially and its marine biodiversity.

An Island for Macro Photography Lovers
It was raining when we started our first dive at Dive Site Tanjung Hisu Dua. I felt the warmth of tropical Celebs seawater as I entered the water. Dolfie Bawole, our dive guide, was descending before us, dove to the reef walls. I dove following him into 20 meter deep, then we found her. A dark brown tiny seahorse, with her tail hanged on greenish colored algae: a severn pygmy seahorse! I have never realized how tiny she is in reality. On the same site, Dolfie also showed us the second pygmy, two bargibanti, hanged at purple-pinkish gorgonian coral.

There are three species of pygmy seahorses that can be found in Bangka Island: Pontoh, Severnsi and Bargibanti. With their size less than two cm, it was nearly impossible to find pygmy seahorse without the help of an experience dive guide. I have read the pygmy is sensitive to camera-strobe lights; therefore I limited myself to maximum of five photo-shots and at the lowest strobe’s flare level. Sincerely, it was not easy to take picture of these tiny celebrities who kept showing their backs at their admirer.

Besides of pygmy seahorses, Dolfie was eagerly showing us variety of nudibranch. Some of them with the size of less than 1 cm and the biggest one with size almost 10 cm. For the first time I saw Bornella Anguilla, a nudibranch with black eye spots and red mosaic pattern in its body that makes it looked like a little dragon. In addition, we spotted many alien-looking animals like the marble shrimp, hairy squat lobster, and mantis shrimp. Meanwhile, eel moray, crocodile fish and scorpion fish could be seen almost in every dive sites we visited.


An Island with Unique Underwater Landscape
The underwater landscape of dive site Sahaung had made me wonder what it used to be in the past. When entering this beautiful dive site, we were welcomed by schooling of fusilier fish. We further dove to an underwater broad plateau, that looked alike a Buddhist temple floor with steps and walls of rocks formation that similar to ancient bricks. By the end of it, we found a huge table coral that would make it as an altar table of the temple where the baby sharks hides underneath. It felt surreal when witnessing such landscape for the first time; it was hardly believed that it was naturally formed.

Dive site Batu Gosok also offers interesting landscape, view of series steep pinnacles that go up from the ocean to the surface. The current could be very strong in this dive site. However, there were some spaces in between corals wall where divers could hide from the current. Terrestrial part of the dive site was stunning overlooking the rocky cliffs and green landscape.

An Island where Endangered Species Live
Some part of the island, like Dive Site Lihunu Garden, has large sea grass field, which is the food source of endangered species dugong. Although we did not see any dugong during our dives, Bangka fishermen and dive guides have seen them. According to Ulva Takke, owner of Mimpi Indah Resort, the dugong could be seen around three days before the full moon and when the water is clear.

Mimpi Indah Resort, an eco-resort where I stayed with my partner, is located next to the forest. Guests can expect to see the endemic animals of the island during their stay. We saw Tarsier twice, and it happened always near to the kitchen during dinner time. I bet the tarsier was attracted to delicious smell of Indonesian food from the kitchen. The flying lizard, squirrels and crabs could be found in the resort as well. The resort also has a “monitor lizard” that keeps swimming back and forth in a small river in the middle of the resort’s garden. Overall, the flora and fauna in Bangka island is unique.

An Island in Trouble
It is hard to imagine what Bangka Island and its underwater will become if the mining started. The iron ore mining permit that issued by North Minahasa Regent will relocate two from four villages in the island. It also will take over some part of the protected rainforest in the island. I am not a mining expert but I can imagine if the company used the well known common method by blasting the iron-ore bearing rock and dug up from open pit mines, the consequences will be disastrous for a small island like Bangka. During the rainy season, the soil sedimentation after the blasting process will go down to the ocean and it may cover the corals and the sea grass field, the living source for fishes, sea-critters and dugongs.

Rejection to the mining has been voiced in social media like Facebook and Twitter. An Indonesian famous rock singer, Kaka Slank, who has been diving in Bangka Island, step in to protect the island and the fishermen’s livelihood. He organized a petition with the support of Change.org, Greenpeace, Indonesian’s Friends of the Earth and local NGOs, Tunas Hijau and LMND to reject the mining. Despite of numerous rejections, the local government seems ignore them and will precede its mining plan. Should you wish the mining plan to discontinue, please voice your concern via Kaka Slank’s petition in this page: Save Bangka Island Petition. The fight to protect the island is not over yet, it will continue until the local government stops the mining plan.


Artikel ini ditulis oleh Indah Susanti dalam blog pribadinya indahs.wordpress.com.

Text & Photos by Indah Susanti (c) indahs
diterjemahkan oleh Basecamp Petualang untuk Save Bangka Island



Tolak tambang di pulau kecil. Selamatkan Pulau Bangka — Sulut!
No mining on small islands. Save Bangka — North Sulawesi!

Kampanye Media Sosial / Social Media Campaign #SaveBangkaIsland
Adalah kampanye gabungan antara / Joint campaign: 
Kaka SLANK, Greenpeace, Change.org, WALHI Friends of the Earth Indonesia, AMMALTA Aliansi Masyarakat Menolak Limbah Tambang, LMND Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Sulut & Tunas Hijau.

Kaka SLANK launched Save Bangka petition!
Ongoing since 2013, Sep 27th — 18.018 signatures on Jan 23rd 2014
Dukung petisi / Sign the online petition: www.change.org/SaveBangkaIsland

Dukung juga kami melalui Google+ / Support us on Google+: www.gplus.to/SaveBangkaIsland

Ikuti juga kami melalui Twitter / Follow us on Twitter: https://twitter.com/SaveBangka 
Hashtag: #SaveBangkaIsland

Bergabung dengan kami di group Facebook: https://www.facebook.com/groups/SaveBangkaIsland/

Share on Google Plus

About Gidion Yuris Triawan

Petualang muda yang suka apa saja kecuali belajar berhitung, jatuh cinta dunia Petualangan dan Alam Indonesia. Juga seorang pengagum pohon Bambu dan bunga Dandelion.
Post a Comment