Coral Day, Secercah Impian untuk Memulihkan Pulau Bangka

Kegiatan Coral Day KitaBangga 2014 di Desa Lihunu Pulau Bangka. Foto: Yuris Triawan
Terumbu karang yang sering diistilahkan sebagai hutan tropis lautan. Diperkirakan seperempat dari total populasi di lautan tergantung pada keberadaan terumbu karang sebagai tempat tinggal dan sumber makanan. Tanpa terumbu karang, banyak spesies di laut akan kehilangan tempat tinggal dan tidak lagi memiliki tempat untuk berkembang biak. 

Sebaran terumbu karang di lautan diperkirakan hanya sekitar 0,1% dari total luas lautan. Jutaan orang di dunia secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada keberadaan terumbu karang sebagai sumber makanan, mata pencaharian dan juga untuk obat-obatan.

“The Economics of Ecosystems and Biodiversity (TEEB) dalam sebuah penelitian menemukan bahwa terumbu karang menghasilkan hingga US $ 1,25 juta per hektar dari pariwisata, perlindungan pantai, bioprospecting dan perikanan per tahun." Sumber: UNEP, Coral Reefs – Valuable but Vulnerable.

Keberadaanya merupakan sumbangsih yang menakjubkan bagi kehidupan masyarakat. Sayangnya, aktifitas manusia telah mengancam keberadaan terumbu karang. Ancaman ini bervariasi dari over-fishing (penangkapan ikan berlebihan), invasi spesies yang disebabkan oleh intervensi manusia seperti masalah lionfish di perairan Karibia, pengelolaan wisata bahari/memancing yang tidak bertanggung jawab serta polusi air. Akibatnya, terumbu karang berada dalam ancaman bahaya dan mengurangi ukuran (sebaran populasi dan jumlah) serta kualitasnya dari tahun ke tahun.
The Colourful Corals. Foto: Indah Susanti
Even an eel Murray feels save inside hard corals. Foto: Indah Susanti

Karang dan kaitannya dengan Terumbu Karang

Saya bukan ahli biologi kelautan sehingga pengetahuan saya didasarkan pada informasi dari artikel yang saya baca. Karang sebenarnya adalah hewan invertebrata [1]. Mereka memiliki kerangka, perut, mulut, dan tentakel. Tentakel digunakan untuk menangkap plankton untuk makanan. Sebuah karang tunggal disebut polip. Hidup secara berkelompok antara ratusan atau ribuan polip dan terhubung dengan jaringan hidup untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas inilah yang biasanya terlihat sebagai karang oleh kita tetapi sebenarnya terdiri dari banyak polip koral.

Karang dibagi menjadi karang keras dan karang lunak. Karang keras adalah struktur bangunan terumbu karang. Kerangka gabungan tersebut menjadi penyokong kehidupan bagi karang lunak dan spesies laut lainnya sebagai sumber makanan maupun habitat. Struktur gabungan yang menjadi penyokong kehidupan karang inilah yang dikenal sebagai terumbu karang dan dibangun oleh jutaan polip karang yang dikembangkan selama bertahun-tahun.
Corals as food resource for fish. Foto: Indah Susanti
Corals are perfect place for juveniles to hide. Foto: Indah Susanti
Nemo from Bangka Island. Foto: Indah Susanti

Coral Day, Secercah Harapan untuk Sebuah Pulau Kecil

Sejak tahun 2009, sekelompok orang Indonesia yang peduli dengan keberadaan terumbu karang memulai suatu gerakan Coral Day dengan tujuan untuk mempertahankan serta memulihkan karang dari kerusakan. Tanggal 8 Mei dipilih sebagai Coral Day karena periode memancing nelayan Indonesia biasanya dimulai awal Mei. Kegiatan ini mempromosikan pemulihan karang dengan menanam struktur bibit terumbu karang, dari spesies karang yang dominan di dasar laut dan mengadakan beberapa kegiatan edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal akan pentingnya peran karang itu.

Coral Day tahun ini akan diselenggarakan di Pulau Bangka, tepatnya di Desa Libas. Mungkin sebagian dari pembaca pernah membaca tulisan saya tahun lalu yang bercerita tentang perjuangan warga di pulau tersebut. Pulau kecil ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara - Indonesia. Meskipun menuai banyak aksi protes dari penduduk lokal dan aktivis lingkungan, aktivitas pertambangan bijih besi tetap belangsung dipulau ini. Perairan/laut disekitar  pulau kini tercemar akibat tanah sedimentasi dari aktivitas pertambangan. Air laut yang dulu biru telah berubah menjadi coklat keruh dan lapisan lumpur menutupi dasar laut. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan laut akan mati sebagai dampaknya.

Ulva Takke, pendiri LSM Suara Pulau yang bergerak Pulau Bangka menuliskan kisah yang menyedihkan. Setiap hujan turun selalu membuatnya menangis membayangkan betapa semakin banyak terumbu karang tertutup oleh sedimentasi lumpur dari aktivitas tambang. Dia mengadakan program edukatif berkala untuk memperkenalkan pentingnya terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun untuk siswa sekolah. Sayangnya program ini dihentikan, sebab daerah yang biasanya mereka kunjungi tidak bisa lagi digunakan akibat tercemar serta tertutup oleh tanah berlumpur.

Berikut kutipan tulisan Ulva Takke yang ditujukan kepada Asisten Menteri Perikanan Indonesia dan Indah Susanti tertanggal 1 Desember 2014.
“Saat ini setiap hujan di pulau saya menangis membayangkan berapa luasan terumbu karang yang akan tertimbun oleh lumpur/sedimen dari tambang. Miris juga karena sekarang saya nggak bisa lagi membawa anak-anak SD Desa Kahuku dan Ehe untuk belajar tentang mangrove, padang lamun dan terumbu karang di kampung sendiri karena semua sudah ditimbun.” 
Joko Widodo bersama band rock Slank. Kaka mengenakan kaos putih. Foto: Cikarang Slank Fans Club

Dalam perjuangannya, gerakan Selamatkan Pulau Bangka (Save Bangka Island), hingga saat ini telah berlangsung selama empat tahun. Di satu sisi aktivitas pertambang juga terus berlangsung, meskipun kini Joko Widodo telah menjabat sebagai presiden. Salah satu pendukung gerakan Save Bangka Island, Kaka Slank, musisi yang juga dikenal publik sebagai pendukung Joko Widodo sudah beberapa kali mengadakan pertemuan. Ironisnya, pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa untuk membantu sebuah pulau kecil seperti yang dibutuhkan.

Terlepas dari situasi yang ironis ini serta pertambangan yang sedang berlangsung, Ulva Takke dan sebagian dari penduduk pulau masih belum mau menyerah demi sebuah impian untuk memiliki terumbu karang yang sehat di pulau mereka.
Kegiatan Coral Day KitaBangga 2014 di Desa Lihunu Pulau Bangka. Foto: Yuris Triawan

Coral Day di Kepulauan Kita Bangga (Kinabuhutan-Talise-Bangka-Gangga) [2]

Kegiatan Coral Day akan diselenggarakan di Desa Libas - Pulau Bangka dan juga akan menyertakan tiga pulau yang berdekatan lainnya. Keempat pulau ini secara lokal yang dikenal sebagai kepulauan Kita Bangga (We are Proud in English). Menurut jadwal kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu 9 Mei 2015. Panitia dan relawan akan menanam rangkaian karang baru di beberapa titik strategis yang jauh dari kemungkinan terkena dampak polusi air akibat pertambangan.

Bagi para penyelam yang ingin berpartisipasi dalam instalasi karang juga diperkenankan. Akan ada pembekalan sebelum instalasi karang dan itu merupakan kesempatan besar untuk belajar bagaimana cara menanam dan merawat karang di dasar laut.

Jika Anda tertarik, silahkan hubungi e-mail: info@suarapulau.org bisa juga untuk reservasi dan rekomendasi untuk akomodasi selama Anda berada disana.

Pihak penyelenggara juga mengajak masyarakat untuk turut mengadopsi karang atau menyumbang sebagai bentuk dukungan pada kegiatan ini. Berikut adalah bebera pilihan untuk anda:

1) Bagi yang bermukim di Indonesia, adopsi karang dan sumbangan bisa berkontribusi melalui website Wujudkan Coral Day Kita Bangga
|| For residents in Indonesia, the coral adoption and donation can be contributed through website Wujudkan Coral Day Kita Bangga.

2) Bagi yang bermukim di luar Indonesia, informasi adopsi karang dan formulir silahkan bertanya melalui e-mail: info@suarapulau.org 

|| For residents outside of Indonesia, the coral adoption information and form can be asked through e-mail: info@suarapulau.org

Contoh adopsi karang. Foto: CoralDayIndo

Contoh instalasi karang. Foto: CoralDayIndo

Menyelenggarakan Coral Day di sebuah pulau yang hampir setengahnya dikuasai pertambangan serta peraiaran lautnya yang rusak memang terdengar seperti lelucon yang menyedihkan, tetapi bukankah butuh banyak keberanian membangun sebuah impian untuk terumbu karang yang lestari sebelum lenyap akibat keserakahan, ketidakpedulian dan kelalaian...?

Ingin tahu apa yang terjadi dengan Pulau Bangka, simak foto-foto dokumentasi dibawah ini: 

Keadaan Pulau Bangka yang didokumentasikan Basecamp Petualang setahun yang lalu. [3]

Pulau yang hijau dan laut biru, lokasi titik awal tempat aktivitas perusahaan tambang.
Pulau yang hijau dan laut biru, lokasi titik awal tempat aktivitas perusahaan tambang.
Spanduk penolakan pertambangan yang dibentangkan di rumah warga.
Spanduk penolakan pertambangan yang dibentangkan di rumah warga.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.

Bandingkan dengan situasi yang terjadi di Pulau Bangka sekarang ini. [4]

Laut yang dulunya biru kini keruh berlumpur.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Laut yang dulunya biru kini keruh berlumpur.


Catatan Sumber:
Tulisan ini sebelumnya di posting dalam bahasa Inggris oleh penulis di situs pribadinya "indahs: travel story & photography" [indahs.com], untuk berbagi informasi maka tulisan ini diterjemahkan dan diposting kembali oleh Basecamp Petualang.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi informasi mengenai spesies kehidupan laut tertentu dan untuk mempromosikan perlindungan mereka lakukan. Semua foto yang ada diambil oleh Indah Susanti kecuali dinyatakan lain.

Keterangan:
[1] Hewan Invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang (vertebrata), juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata.

[2] baca tentang Coral Day Kita Bangga (2014) sebelumnya disini 

[3] Foto2 dokumentasi Pulau Bangka setahun sebelumnya adalah dok. Basecamp Petualang

[4] Foto2 dokumentasi situasi terahkir di Pulau Bangka diupload Jull Takaliuang di group Save Bangka Island


Semoga Bermanfaat... #SaveBangkaIsland
Share on Google Plus

About Gidion Yuris Triawan

Petualang muda yang suka apa saja kecuali belajar berhitung, jatuh cinta dunia Petualangan dan Alam Indonesia. Juga seorang pengagum pohon Bambu dan bunga Dandelion.
Post a Comment