Tata Cara Perijinan dan Tips Pendakian G.Semeru 3676 mdpl

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
1. PROSES PERIJINAN PENDAKIAN

Berbeda dengan kegiatan wisata lainnya dimana pengnjung dapat langsung menuju obyek wisata yang dituju, maka untuk kegiatan pendakian para calon pendaki terlebih dahulu harus mengurus perijinan di kantor TN. Bromo Tengger Semeru melalui kantor Seksi Pengelolaan TN Wilyah II (SPTN II) di Tumpang dengan nomor telpon (0341) 787972 bagi pendaki dari pintu masuk Malang, dan kantor Resort Pengelolaan TN Wilayah Ranupani bila pendaki dari pintu masuk Lumajang. Perijinan tersebut bisa dilakukan langsung pada saat akan mendaki tanpa harus booking terlebih dahulu. 

Kewajiban mengurus surat ijin ini dimaksudkan untuk memudahkan monitoring dan pengawasan lalu lintas pendakian serta antisipasi menghubungi pihak organisasi/keluarga pada saat terjadi musibah. Persyaratan yang harus dilengkapi oleh calon pendaki sebagai berikut :
  • Fotocopy identitas diri sebanyak 2 rangkap untuk masing-masing calon pendaki
  • Mengisi Biodata Semua Pengikut : Nama lengkap, umur, alamat beserta nomor telpon keluarga yang bisa dihubungi masing-masing.
  • Membayar karcis masuk,asuransi, dan surat ijin pendakian per orang/pendaki sebesar Rp. 7.000 ,- (bagi umum, dengan rincian karcis masuk Rp. 2.500,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-), Rp. 5.750,- (bagi pelajar/mahasiswa, dengan rincian karcis masuk Rp. 1.250,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-) dan Rp 24.500 (bagi Warga Negara Asing dengan rincian karcis masuk Rp. 20.000,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-). Bila membawa kendaraan pribadi akan dikenakan tambahan biaya lagi Rp 3.000 per sepede motor, dan Rp 6.000 per mobil. Bagi yang naik kendaraan umum/charter maka biaya karcis kendaraan ditanggung oleh masing-masing sopir kendaraan tersebut.
  • Pendakian dilakukan berkelompok/beregu, minimal 3 (tiga) orang. Bila ingin mendaki sendirian maka petugas tidak akan memberikan pelayanan perijinan untuk melakukan pendakian.
  • Membawa perlengkapan pendakian seperti tenda, bekal makanan, P3K, dan lainnya yang dibutuhkan selama melakukan pendakian. Jangan lupa bawalah kantong plastik buat membawa sampah turun kembali.
INFO: BAGI CALON PENDAKI KE GUNUNG SEMERU  MULAI TANGGAL 1 JULI 2014 BISA MELALUI SISTEM BOOKING ONLINE


2. TATA TERTIB PENDAKIAN Gn. SEMERU

Papan Pengumuman tata tertib TNBTS.
Kepada semua calon pendaki yang akan melakukan pendakian diwajibkan untuk mentaati tata tertib sebagai berikut :
  • Setelah mendapatkan surat ijin pendakian dan melengkapi administrasi pendakian di kantor SPTN II, calon pendaki diharapkan melaporkan diri ke Petugas di Pos Ranupani untuk registrasi ulang (tidak dipungut biaya lagi) dengan mengisi buku tamu (nama ketua kelompok, alamat, jumlah pengikut, nomor surat ijin, tanggal naik dan tanggal turun sesuai yang ada di surat ijin), mengisi blanko daftar barang bawaan.
  • Bagi para calon pendaki yang belum pernah melakukan pendakian ke Gn. Semeru dianjurkan untuk didampingi oleh guide, atau bergambung dengan kelompok lain yang sudah pernah melakukan pendakian ke Gn. Semeru.
  • Berjalanlah secara kelompok, jangan memisahkan diri dari rombongan, serta dilarang memotong kompas atau membuat jalur sendiri. Ikutilah jalur yang sudah ditetapkan.
  • Para calon pendaki dilarang membawa senjata sajam berupa parang, kapak, dan sejenisnya, namun diperbolehkan membawa pisau lipat atau pisau dapur untuk peralatan memasak.
  • Dilarang membawa minuman keras dan obat-obatan terlarang selama melakukan pendakian ke Gn. Semeru.
  • Dilarang membawa binatang peliharaan dan alat buru.
  • Saat di Puncak Mahameru dilarang mendekati kawah jonggring saloka yang masih aktif karena berbahaya adanya gas belerang dan semburan abu panas, serta material lainnya.
  • Dilarang melakukan kegaduhan, membuat api yang bisa menyebabkan kebakaran hutan, membuang sampah sembarangan serta pencemaran. Saat meninggalkan lokasi atau turun, pastikan tidak ada lagi api yang masih hidup, dan sampah yang masih berserakan. Bawa turun kembali sampah anda.
  • Mintalah arahan dan penjelasan kepada Petugas mengenai pantangan-pantangan jika ada, dan kondisi terakhir rute pendakian. Jangan memaksakan diri bila fisik dan mental belum siap. Jangan memaksakan diri.
  • Setelah turun dan tiba di pos Ranupani, agar melaporkan diri kepada Petugas dan mengisi buku tamu kembali untuk memastikan bahwa anda dan rombongan telah benar-benar turun, dan menyerahkan sampah bawaan.

3. RUTE PERJALANAN KE Gn. SEMERU

Jalur pendakian Semeru dari Ranu Pani.
Rute perjalanan menuju gn semeru dapat melalui Kab. Lumajang dan Malang, untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada menu Accesbilitas. Namun selama ini kebanyakan calon pendaki masuk melalui pintu masuk Tumpang kantor SPTN II (Malang). 

Pendaki yang menggunakan jasa kerata api, dari Stasiun Kota Baru Malang naik angkot AMG, ADL (Rp 2.500) turun diterminal Arjosari Malang selama ? 15 menit. Dari terminal Arjosari (Malang) pendaki dapat naik angkot warna putih jurusan Tumpang-Arjosari (TA) selama ? 45 menit dengan biaya Rp 5.000,- turun di terminal pasar tumpang.

Dari pasar tumpang perjalanan dilanjutkan naik jeep/truck engkel ke Ranu Pani selama ? 2 jam dengan biaya Rp. 30.000,- per orang atau carter Rp 400.000,- per kendaraan. Sebelum sampai Ranu Pani, tak jauh dari terminal pasar tumpang, para pendaki akan dibawa terlebih dahulu oleh sopir jeep/truck engkel ke kantor SPTN II di Tumpang untuk mengurus surat ijin pendakian dan membeli karcis masuk kawasan dengan perincian sebagai berikut :


UPDATE: 
TARIF PENDAKIAN TNBTS PER 5 MEI 2014
SEMERU DAN SEKITARNYA / hari
HARI KERJA
HARI LIBUR
WISATAWAN NUSANTARA

WISATAWAN MANCANEGARA
Rp.17.500

Rp.207.500
Rp.22.500

Rp.307.500


Setelah sampai di Ranu Pani, para pendaki diwajibkan melapor ke petugas dengan menunjukkan surat ijin pendakian dan karcis masuk. Di sini merupakan pos pemeriksaan, terdapat juga cafetaria dan penginapan. Di Ranu Pani para pendaki akan mendapatkan penjelasan-penjelasan dari petugas sebelum berangkat untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. 

Ranu Pani merupakan perkampungan terakhir sebelum mendaki gn semeru yang terletak pada ketinggian 2.200 m dpl. Di sini terdapat 2 danau yakni Danau Ranu Pani (1 Ha), dan Ranu Regulo (0.75 Ha). Sekitar danau dapat juga digunakan untuk berkemah/menginap.


INFO: Untuk Jalur Pendakian Gn Sumeru silahkan klik DISINI


4. WAKTU PENDAKIAN

Calon pendaki tidak setiap saat dapat melakukan pendakian, hal ini dikarenakan terkadang pendakian ke Gn. Semeru di tutup untuk sementara guna memulihkan ekosistem, serta apabila terjadi peningkatan aktivitas Gn. Semeru. Bila ada penutupan sementara jalur pendakian ke Gn. Semeru pihak TN. Bromo Tengger Semeru akan menginformasikan melalui menu NEWS.

Untuk melakukan pendakian ke Gn. Semeru, pulang pergi diperlukan waktu beberapa hari tergantung kemampuan fisik masing-masing calon pendaki. Sebaiknya membawa bekal yang dilebihkan karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kelelahan setelah mendaki gunung semeru.

Pendakian dari Ranu Pani menuju puncak semeru sebaiknya dilakukuan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Ranu Pani- Ranu Kumbolo
Dari Ranu Pani pukul 7.00 WIB menuju Ranu kumbolo ?10 km melalui jalan setapak yang memakan waktu sekitar 3-4 jam.

Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar karena ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.

Jalur awal yang akan dilalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman. Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, para pendaki akan sampai di Watu Rejeng, merupakan batu terjal yang sangat indah dengan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang dapat terlihat kepulan asap dari puncak semeru. Dari Blok Watu Rejeng perjalanan masih berlanjut menuju Ranu Kumbolo.

Di Ranu Kumbolo terdapat danau yang sangat luas (12 Ha) dengan ketinggian 2.400 m dpl. Di Ranu Kumbolo ini terdapat pondok pendaki serta MCK untuk istirahat dan memasak bahkan untuk menginap/bermalam. Sekitar danau juga dapat digunakan untuk berkemah. Kondisi air di danau ini jernih dan terbebas dari polusi udara. Pada saat perayaan HUT RI, Ranu Kumbolo juga dijadikan sebagai salah satu tempat upacara para pendaki yang tidak sampai ke puncak atau karena quota untuk puncak sudah habis.

Ranu Kumbolo merupakan tempat peristirahatan yang memiliki pemandangan dan ekosistem dataran tinggi asli. Panorama alam di pagi hari akan lebih menakjubkan berupa sinar matahari yang terbit dari celah-celah bukit yang menyebabkan sekitar danau berwarna kemerah-merahan dan kekuningan, di tambah uap air dari danau seakan-akan keluar dari danau tersebut. Di pagi hari juga dapat melihat atraksi burung belibis .Di daerah ini juga terdapat prasasti peninggalan jaman purbakala dan diduga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Kawasan Ranu Kumbolo (2400 mdpl).
b. Ranu Kumbolo-Kalimati
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo akan diawali mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati berjarak 5 km membutuhkan waktu tempuh 2-3 jam.

Tak jauh dari ranu Kumbolo terdapat padang rumput yang terletak di lembah gn. Ayek-ayek yang dinamakan ?pangonan cilik?. Asal usul nama tersebut karena padang rumput ini mirip dengan padang penggembalaan ternak (Pangonan). Selanjutnya di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo, luasnya ?100 ha. 

Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Padang rumput ini mirip sebuah mangkuk dengan hamparan rumput yang berwarna kekuningan, kadang-kadang pada beberapa tempat terendam air hujan. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel. Di sebelah selatan padang rumput Oro-Oro Ombo terdapat kelompok Hutan Cemoro Kandang termasuk dalam gugusan Gn. Kepolo (3.095 m dpl) merupakan hutan yang ditumbuhi pohon cemara gunung dan tumbuhan paku-pakuan. Daerah ini topografinya relatif datar. Kadang disini dapat dijumpai burung dan kijang.

Setelah cemoro kandang perjalanan berlanjut ke padang rumput Jambangan yang terletak 3.200 m dpl, di sini terdapat beberapa cemara, mentigi, dan bunga edelweis. Topografinya relatif datar, terdapat beberapa tempat teduh yang ideal untuk peristirahatan. Dari tempat ini terlihat dengan jelas gn. Semeru menjulang tinggi dengan kepulan asap yang menjulang ke angkasa serta alur lahar pada seluruh tebing puncak yang mengelilingi berwarna perak. Di tempat inilah para pendaki maupun fotografer sering mengabadikan atraksi keunikan gn semeru.

c. Kalimati-Mahameru
Daerah kalimati merupakan tempat untuk mempersiapkan diri menuju puncak semeru yang sering disebut Mahameru. Untuk melanjutkan perjalanan ke puncak dianjurkan pagi-pagi sekali sekitar pukul 2.00-3.00 pagi. Waktu tempuh sekitar 4-5 jam dengan perjalanan yang terus menanjak.

Nama kalimati berasal dari nama sebuah sungai/kali yang tidak berair. Aliran air hanya terjadi apabila musim hujan, aliran menyatu dengan aliran lahar gn. Semeru. Daerah ini merupakan padang rumput dengan tumbuhan semak dan hamparan edelweis seluas ? 20 ha, dikelililngi kelompok hutan alam dan bukit-bukit rendah. Kalimati merupakan tempat berkemah para pendaki sebelum melanjutkan pendakian. Disini terdapat fasilitas pondok pendaki, namun untuk kebutuhan air harus mengambil dari Sumbermani, ke arah barat/kanan menyusuri pinggiran hutan dengan jarak tempuh ?1 jam pulang pergi. Disini banyak terdapat tikus gunung sehingga bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan di tempat yang aman.

Untuk menuju puncak, dari Kalimati perjalanan melewati Arcopodo. Arcopodo merupakan tempat transit sementara sebelum ke puncak. Daerah ini berada di lereng puncak gn. Semeru dengan jalanan yang terus menaik dan berliku-liku diantara hutan cemoro dengan kondisi tanah berdebu. Ditempat ini terdapat beberapa prasasti para pendaki yang meninggal dunia berjumlah ?12 buah sebagai tanda berkabung. Prasasti ini dibuat oleh masing-masing groupnya. Salah satu prasasti yang terkenal adalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (Mapala UI) yang meninggal tanggal 6 Desember 1969. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. 

Semua barang bawaan sebaiknya di tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 03.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.

?Jalan menuju surga? itulah ungkapan dari para pendaki yang melakukan pendakian ke semeru. Alur lahar berpasir terbentuk dari bongkahan lahar yang membeku menyelimuti seluruh tebing, menjulang tinggi untuk di daki dengan kemiringan 60?-70? bahkan lebih apabila berada di bagian bawah tebing. Di malam hari, tempat ini hanya terlihat seakan-akan berada di kaki seorang raksasa. Kesiapan fisik dan mental harus secara matang diperhitungkan, begitu juga keteguhan hati dan kesabaran serta semangat untuk mencapai puncak tertinggi di pulau jawa. Di puncak terlihat beberapa puncak gunung di jawa timur, garis-garis pesisir dan pantai Samudra Hindia, kota-kota besar serta matahari terbit di ufuk timur. Pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.

Di puncak Gunung Semeru (Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau bisa minus, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai. Di kawah jonggring saloko terjadi letusan setiap 15-30 menit. Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter.

G.Semeru 3676 mdpl.
5. KONDISI UMUM GN. SEMERU

a. Lokasi
Gunung Api Semeru merupakan gunung api tertinggi di Pulau Jawa (? 3.676 m dpl) dan merupakan salah satu gunung api yang masih aktif. Gn. Semeru berada dalam satu kelurusan yang berarah selatan-utara dengan komplek Gn. Jambangan dan Peg. Tengger. Posisi letaknya berada diantara wilayah administrasi kabupaten Lumajang dan Malang dengan posisi geografis 8?06? LS dan 120?55? BT.

b. Bentuk dan Struktur
Dilihat dari kejauhan Gn Semeru berbentuk seperti kerucut yang sempurna, tetapi saat berada di puncak gunung tersebut berbentuk strato (kerucut terpancung) yang luas dengan medan beralur di setiap tebingnya. Kawah yang terdapat di puncak Gn. Semeru terdiri dari kawah Mahameru yang sudah tidak aktif dan kawah Jonggring Seloko yang masih aktif. Kawah Jonggring Seloko terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru pada tahun 1913 dan 1946 berisi satu kubah kawah. 

Di sebelah selatan kubah ini menekan tepi bawah kawah, yang menyebabkan aliran lava ke arah selatan daerah Pasirian dan Candipuro (Lumajang). Gn. Semeru adalah bagian termuda dari Peg. Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato-vulkano luas yang terpisah. Aktivitas vulkanik yang dikeluarkan berupa :
  • Letusan abu, lava blok tua dan bom lava muda
  • Material lahar vulkanik bercampur air hujan atau air sungai
  • Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran
  • Pertumbuhan lambat dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.
c. Geologi dan tanah
Geologi Gn. Semeru merupakan hasil gunung api kwarter muda, dengan jenis batuan berupa : abu pasir/tuf dan vulkan intermedia sampai basis dengan fisiografi vulkan serta asosiasi andosol kelabu dan regosol kelabu dengan bahan induk abu/pasir dan tuf intermedian sampai basis. Bentuk struktur geologi menghasilkan batuan yang tidak padat dan tidak kuat ikatan butirannya, sehingga mudah tererosi dimusim penghujan. Jenis tanahnya adalah regosol, merupakan gabungan tanah dengan sedikit perkembangan profil dengan solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh.

d. Iklim
d.1. Curah Hujan dan Suhu
Secara umum iklim wilayah gn. Semeru berdasarkan Schmidt & Ferguson bertipe B. Dengan curah hujan antara 927 mm- 5.498 mm per tahun dengan hari hujan rata-rata 136 hari/tahun. Musim hujan jatuh pada bulan November-April. Sepanjang route perjalanan dari mulai Ranu Pani (2.200 mdpl) sampai Puncak Semeru suhu berkisar antara 2?C-8?C pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 10?C-21?C. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya. Dinginnya udara di sepanjang route perjalanan bukan disebabkan oleh udara diam saja tetapi juga karena kencangnya angin yang berhembus ke lembah sehingga menjadikan udara lebih dingin.

d.2. Angin dan kabut
Berdasarkan topografi kawasan secara umum, pola tiupan angin membentuk pola yang tidak menentu,sehinggai arah angin sulit ditentukan/berubah-ubah. Bentuk topografi yang dilingkari oleh tebing tinggi sekitar 200-500 m sebenarnya memungkinkan dapat menahan arus kecepatan angin, tetapi karena banyak celah/lorong ditebing tersebut maka arus angin tidak tertahan bahkan dengan laju yang lebih cepat. Bentuk topografi yang cekungan sering menyebabkan angin siklus. Angin yang bertiup di kawasan ini berkaitan erat dengan pola angin disekitarnya, yaitu angin tenggara atau angin gending, angin timur laut adn angin barat laut.

Kecepatan angin berkisar antara 8-30 knots, dimana saat musim angin kencang banyak dijumpai pohon tumbang. Angin ini biasanya bertiup antara bulan Desember-Pebruari, sehingga pada bulan tersebut biasanya kegiatan pendakian ke semeru ditutup.

Pada pagi dan sore sampai malam hari, sepanjang route perjalanan biasanya berkabut. Daerah ranu Kumbolo dan Kalimati yang dijadikan tempat bermalam selalu ditutupi kabut pada malam hari. Khusus di daerah Ranu Kumbolo, adanya danau yang cukup luas menjadi pendukung pembentukan kabut karena proses penguapan air danau.

e. Flora dan Fauna
Flora yang berada di wilayah gn semeru dan sekitarnya masuk dalam zona sub Alpin, yang didominasi dengan jenis cemara gunung (Casuarina junghuniana), jamuju (Podocarpus sp), mentigi (Vacinium varingifolium), kemlandingan (Albizia lophanta) dan akasia (Accasia decurents). Untuk tumbuhan bawah didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica), kirinyuh (Euphatorium odoratum), tembelekan (Lantana camara), harendong (Melastoma malabathicum) dan Edelwiss putih (Anaphalis javanica). 

Pada lereng-lereng yang curam menuju puncak semeru sekitar daerah Arcopodo terdapat janis paku-pakuan seperti Gleichenia volubilis, Gleichnia longisumus dan beberapa jenis anggrek endemik semeru. Pada ketinggian lebih 3.100 mdpl tanpa vegetasi sama sekali karena berupa batuan, pasir dan abu.

Kehidupan fauna yang disekitar gn semeru sangat terbatas, baik jenis maupun jumlahnya. Satwa yang terdapat di sekitar gn Semeru diantaranya beberapa jenis burung seperti belibis (Anas superciliosa) dan Elang, primata, dan mamalia, seperti macan kumbang (Panthera pardusi), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanica).

Verbena brasiliensis, tanaman semak tahunan yang berasal dari Amerika Selatan tumbuh di tepi Danau Ranu Kumbolo dan juga tumbuh menyebar di padang Oro Oro Ombo, Gunung Semeru (4/6). Walau tampak indah, kemunculan tanaman asing ini mulai menimbulkan masalah di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Foto: TEMPO/Abdi Purmono
f. Aktivitas Letusan Gn. Semeru
Berdasarkan data dasar Gunung Api Indonesia, sejarah letusan Gn. Semeru dimulai tanggal 8 Nopember 1818. Sejak tahun 1967 hingga sekarang kegiatan Gn. Semeru tidak pernah berhenti, pusat kegiatannya di kawah Jonggring Seloko yeng terletak di sebelah Tenggara Puncak Mahameru. Pada letusan biasa, sebuah tiang asap membumbung dengan bergulung-gulung berupa bom dan abu mencapai ketinggian 300-600 m di atas kawah dengan interval letusan 10-20 menit (dengan demikian kawasan kawah merupakan tempat yang sangat berbahaya dan dilarang untuk mendekat ke kawah tersebut).

Berikut beberapa letusan semeru yang cukup besar :
Th 1942 : Letusan sampai dilereng sebelah timur pada ketinggian antara 1400 dan 1775 m. titik letusan sebanyak 6 tempat. Leleran lava masuk ke Blok Semut dan menimbuni Pos pengairan Bantengan. Aliran lava sepanjang 6,5 km.

Th 1961 : Letusan tipe stromboli dengan tinggi abu lk 3000 m di atas puncak, bahkan letusan dilemparkan sampai Arcopodo, hutan di sekitar hulu Besuk Sat dan Besuk Tompe terlewati. Aliran lava terjadi di Kali Glidik, Besuk Sat, Besuk Bang dan Besuk Kobokan.

Th 1963 : Bulan Mei terjadi awan panas dan aliran lava melanda Curah Leng Rong, Kali Pancing, dan Besuk Semut. Awan panas mencapai 8 km dari kawah.

Th 1968 : Pertumbuhan kubah lava terus berlangsung, banjir lahar membawa korban 3 orang penduduk Desa sumber wungkil

Th 1977 : Bulan Desember terjadi guguran lava menghasilkan awan panas, guguran berjarak 10 km di Besuk Kembar dengan volume endapan 6,4 juta m. Sebagian awan apanas ini menyeleweng ke Besuk Kobokan. Sawah dan Tegal seluas 110 ha rusak di desa sumberurip, hutan pinus 450 ha, 2 jembatan rusak terbakar, dan 2 rumag bilik hanyut.

Th 1978 : Letusan masih terjadi dengan tinggi asap maksimum mencapai 800 m di atas tepi kawah, luncuran guguran awan panas maksimum 7 km.

Th 1981 : Bulan Maret dan April terjadi beberapa kali luncuran awan panas dengan jarak luncur maksimum 10 km. Tumpukan endapannya 6,2 juta m?, suhu endapan awan panas di dekat Dukuh supit Tengah sebesar 120?C.

Th 1990 : Bulan Nopember dan Desember terjadi guguran kubah lava menghasilkan awan panas dan kawah Jonggring Seloko yang terbuka sampai saat ini.

Th 1994 : Bulan Pebruari terjadi letusan dan suara dentuman disertai hujan abu dan guguran lava membentuk awan panas.aliran guguran awan panas masuk ke besuk Kobokan mencapai 11,5 km, ke Besuk kembar 7,5 km, dan besuk Bang lk 3,5 km. Volume awan panas tersebut diperkirakan 6,8 juta m?. Korban yang meninggal terlanda awan panas 7 orang dan 2 orang hanyut oleh lahar.

Th 2002 : Bulan Desember terjadi beberapa kali letusan di kawah utama diikuti awan panas guguran.

g. Pemantauan Aktivitas Gn. Semeru
Pemantauan terhadap aktivitas Gn. Semeru sampai saat ini masih terbatas pada pemantauan visual dan seismik saja. Pengamatan visual dilakukan dengan mengamati cuaca, tinggi dan warna letusan, arah letusan serta pengamatan guguran. Sedangkan pengamatan seismic sampai saat ini dilakukan dengan memasang sensor seismometer di 2 (dua) lokasi, yaitu di Gunung Leker dan Besuk Bang. Sinyal gempa yang tertangkap oleh 2 seismometer tersebut di transmisikan melalui gelombang radio ke Pos Pengamatan Gunung Api Semeru yang berada di Gunung Sawur, dan direkam dengan perekam gempa (PS-2). Hasil pengamatan tersebut dilaporkan ke Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bancana Geologi di Bandung menggunakan pesawat SSB (single Side Band). Pemantauan menggunakan metode lain seperti deformasi, gravitasi, kelistrikan, dan geomagnet dilakukan hanya bersifat temporer.

h. Pendaki Pertama
Pendaki pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayet-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.

6. LEGENDA GUNUNG SEMERU

Norman Edwin Berpose Bersama Arcopodo Tahun 1984.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. 

Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Dokumentasi Arcopodo Koleksi Museum Tropen, Belanda.
Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib. 

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh Mahkluk halus yang mendiami daerah keliling gunungnya. Roh halus tersebut biasanya adalah Roh Leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Foto Terbaru Arcopodo.
Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat Mahkluk halus penunggu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat Mahkluk halus dan dapat bicara dengan Mahkluk Halus. Terserah orang percaya pada Mahkluk Halus atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh Mahkluk Halus.


Melalui Prasasti Ranu Kumbolo, kita bisa mengerti, sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang kita juga pendaki gunung. Prabu Kameswara mendaki Semeru untuk bersemedi; mendekatkan diri pada Sang Hyang Pencipta alam semesta. Untuk menandai kedatangannya ke Semeru, Prabu Kameswara mengabadikannya ke dalam sebuah prasasti. Namanya Prasasti Ranu Kumbolo. Prasasti ini berada di tepian danaunya. Ada sebuah tulisan di batu prasasti tersebut, yaitu Ling Deva Mpu Kameswara Tirthayatra. Menurut sejarawan M.M. Sukarto Atmojo, tulisan yang berbahasa Jawa kuno tersebut, dapat diartikan bahwa ketika itu, Prabu Kameswara pernah melakukan kunjungan suci dengan mendaki Gunung Semeru. Angka tahun prasasti, masih menurut sang sejarawan, berkisar pada 1182 M. Foto: Kompasiana


Selamat Berpetualang... Leave No Trace... 

SUMBER: TNBTS | Blog Detik (TENGGER PEOPLE / SUKU TEN99ER)
Share on Google Plus

About Gidion Yuris Triawan

Petualang muda yang suka apa saja kecuali belajar berhitung, jatuh cinta dunia Petualangan dan Alam Indonesia. Juga seorang pengagum pohon Bambu dan bunga Dandelion.
Post a Comment