Pulau Labengke, Menara-Menara Batu Gamping di Tepi Laut Banda

Pulau Labengke memang tak sepopuler Raja Ampat. Padahal, keduanya memiliki kemiripan, tersusun oleh menara-menara batu gamping berpadukan keasrian vegetasi tropis. Labengke bahkan ditumbuhi aneka jenis bunga anggrek dan air terjun yang aduhai eloknya. Sayangnya, potensi alam yang luar biasa ini belum dilirik.

Sekali waktu cobalah amati Pulau Labengke melalui citra satelit. Pulau kecil yang berada di Laut Banda itu tampak unik memikat. Sekujur daratannya dibalut permadani hijau berhutan tropis. Topografinya tampak berbukit-bukit.

Lalu, amati juga pantai di sekelilingnya. Pulau yang berada sekitar 120 km di timur laut Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara itu nyaris tak punya pasir putih. Hanya sebagian kecil, tepatnya di sebelah utara pulau, daratan landai berpasir putih tampak membentang.

Selebihnya, daratan pantai yang berbukit-bukit itu langsung berbatasan dengan Laut Banda yang membiru. Sekilas kondisi Pulau Labengke hampir serupa dengan Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. 

Miniatur Raja Ampat

Boleh jadi, Labengke adalah miniaturnya Raja Ampat yang mulai tersohor di seluruh penjuru dunia. "Keduanya dibentuk oleh batu gamping sehingga memunyai kemiripan morfologi," kata Prof Surono, pakar geologi dari Badan Geologi, yang belum lama ini melakukan penyelidikan ilmiah di Pulau Labengke.

Ya, Labengke adalah pulau terbesar dari gugusan pulau-pulau batu gamping yang berserakan di sekitarnya. Pulau-pulau kecil itu antara lain Labengke Kecil, Bae, Muang, Tarape, dan Ambokita. Sebagian pulau lainnya belum punya nama.

Secara morfologi, Pulau Labengke berupa bukit kars dengan ketinggian beberapa meter hingga puluhan meter di atas permukaan laut. Karena kemiringan pantainya yang tajam dan terjal itulah Labengke dan pulau-pulau kecil di sekitarnya hingga kini tak berpenghuni.

Justru di sinilah pesonanya. Karena tak ada penduduk yang mendiaminya, pulau ini tampak asri dan "perawan". Pantai berpasir putih memang tergolong sempit dan pendek. Namun berpadukan bukit-bukit hijau, malah menambah panorama yang sungguh tak biasa.

Tak hanya itu, keberadaan air terjun di Labengke kian melengkapi kesempurnaan alam ciptaan Allah. Air tawar ini menjadi sumber penghidupan bagi flora dan fauna di Labengke.

Air lautnya juga tampak biru bersih. Perpaduan antara biru laut hingga hijau toska, hamparan vegetasi hijau, dan menara batu gamping berwarna abu-abu itu menampilkan mozaik alam yang penuh pesona.

Sekali mencoba menjejakkan kaki di sana, niscaya Anda tak akan melupakan pengalaman memikat sepanjang hayat di kandung badan. Jadi, jika ada waktu senggang, rencanakan kunjungan Anda bersama rekan atau keluarga. 

Bersiaplah berpetualang di alam semesta. Nikmati keelokan panorama alam yang tiada taranya itu. Dijamin akan menemukan sensasi unik yang selama ini belum pernah menghampiri petualangan Anda.

Menara Batu Gamping

Dilihat dari terbentuknya, pulau ini tersusun oleh batu gamping terumbu yang berwarna putih, kelabu, hingga kecoklatan. "Di dalamnya dijumpai fosil koral, ganggang, dan cangkang moluska," ungkapnya.

Hasil rekaman foto-foto bidikan Surono memang tampak menggoda. Dia mengabadikan struktur menara batu gamping Pulau Labengke yang aduhai eloknya. Di sela-sela batuan-batuan yang menjulang tegak vertikal itu, vegetasi hijau mengisi celah-celah tanah.

Meskipun umumnya pantai pulau-pulau di sana bertebing terjal, tetapi dijumpai juga beberapa pantai landai berpasir putih bersih. "Tebing-tebing batu gamping di pulau rimbun itu juga dipenuhi tanaman litofitik, seperti beragam jenis anggrek. Betapa semaraknya panaroma alam jika anggrek-anggrek itu sedang berbunga," tutur Imtihanah, Penyelidik Bumi Madya dari Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Deretan batu gamping itu berdiri kokoh setinggi puluhan meter. Karang berwarna abu-abu itu seolah menjadi benteng pertahanan dari empasan ombak dari Laut Banda yang menghantam pulau tersebut. 

Meski setiap saat digerus derasnya arus dan gelombang, struktur menara batu gamping itu tak goyah. Batu karang itu juga tak lekang oleh zaman meski diterpa angin dan gelombang selama puluhan juta tahun. Justru sebaliknya, struktur menara batu gamping itu kian menampilkan keelokan yang tiada tara.

Surono menjelaskan batu gamping tersebut tersusun oleh fosil karang, ganggang, dan cangkang moluska. Akibat proses evolusi selama puluhan juta silam dan pergerakan tektonik, dasar laut itu terangkat dan menjelma Pulau Labengke seperti yang Anda lihat saat ini.

Berdasarkan hasil penyelidikannya, fosil-fosil yang menyusun Formasi Tampakura di Labengke antara lain foraminifera besar (Chiloguembilina sp, Nummulites sp, Miliolides sp, Reussella sp, Opercullina sp, Turborotalia pseudomayeri, Globigerina sp, Planorbulinella cf. Larvata, dan Discogypsina sp), fosil nanno (Coronocyclus netecens dan Cyclicargolithus floridanus), moluska, ganggang, koral, dan echinoid. 

Fosil foraminifera menunjukkan umur Eosen akhir sampai Oligosen Awal (sekitar 55,8 – 23,03 juta tahun). Sementara itu, fosil nanno menunjukkan kisaran umur lebih panjang, yakni Eosen Tengah hingga Miosen Tengah. 

Imtihanah menambahkan secara litologi, Formasi Tampakura terdiri atas oolit, mudstone, wackstone, packstone, framestone, dan sisipan batu pasir, serpih, lanau, serta napal di bagian bawah. Bagian bawah dari formasi ini menindih tak selaras Formasi Meluhu.

Di bagian atasnya ditindih tak selaras oleh Molasa Sulawesi. Formasi Tampakura ini bersentuhan secara tektonik, berupa sesar, dengan Lajur Ofiolit Sulawesi Timur, dan dipercaya merupakan bagian teratas dari Kepingan Benua Sulawesi Tenggara. 

Pada umumnya, batuan penyusun Formasi Tampakura berlapis baik dengan ketebalan antara 7 dan 50 cm. Namun di beberapa tempat, lapisan framestone mencapai ketebalan 6 m. 

Sementara itu, kemiringan bidang perlapisan berkisar antara 15 – 55 derajat. Total ketebalan formasi ini di Pulau Labengke mencapai 400 meter.

Berdasarkan fakta sekilas tersebut jelas Pulau Labengke memiliki aset besar bagi pengembangan wisata alam di masa depan. Keunikan alam ini siap memanjakan pengunjungnya. 

Inilah saatnya bagi pemda dan masyarakat lokal untuk memberi kemudahan akses bagi pelancong. Melalui perencanaan yang matang, niscaya masyarakat lokal mendapat manfaat ekonomi dengan tetap menjaga keasrian dan keelokan Pulau Labengke beserta seluruh isinya.


Cara Mudah Menuju Pulau Labengke

Usahakan berangkat pada pukul 05.00 waktu setempat. Ini untuk menghindari ombak tinggi saat mengarungi Laut Banda.

Jika Anda ingin menikmati surga dunia di Pulau Labengke, rencanakan dengan matang. Semua logistik harus disiapkan dengan baik. Maklum, di Labengke tak ada permukiman penduduk, apalagi penginapan.

Bawalah perbekalan tenda untuk bermalam di pantai. Siapkan juga makanan dan minuman yang cukup. Peralatan masak seperti kompor, panci, piring, gelas, dan lain-lain juga wajib dibawa.

Jangan lupa siapkan peralatan selam (diving) dan snorkeling. Berpetualang di dasar Laut Banda sungguh menyenangkan. Anda akan ditemani lumba-lumba, jenis ikan yang kerap menolong manusia saat terkena musibah di tengah laut.

Anak-anak hiu dan aneka jenis ikan karang berseliweran di rerimbunan terumbu karang. Bintang laut (starfish) juga bertebaran kian menambah semarak panorama kehidupan di dasar laut.

Anda dapat memulai perjalanan dari Pelabuhan Johnson di Teluk Kendari. Dengan menyewa bodi atau perahu kayu tradisional berukuran panjang sekitar 15 meter, Anda bersiap melakukan petualangan seru.

Usahakan berangkat pada pukul 05.00 waktu setempat. Ini untuk menghindari ombak tinggi saat mengarungi Laut Banda. Maklum, gelombang dan angin pada siang hari biasanya kurang bersahabat. 

Jadi, kenakan selalu baju pelampung yang telah disediakan. Sebab, saat bodi keluar dari Teluk Kendari, gelombang senantiasa menghantam perahu motor.

Perjalanan mengarungi Laut Banda selama tiga jam menuju Pulau Labengke itu sungguh mengasyikkan. Rasa cemas dan lelah langsung sirna begitu kita menjejakkan kaki di pasir putih yang dipagari dinding-dinding terjal berhiaskan bunga anggrek dan vegetasi lainnya.

Silakan manjakan diri Anda di air terjun dan mulailah berkelana sepuasnya.



Sumber : Koran Jakarta
Foto : google
Share on Google Plus

About Gidion Yuris Triawan

Petualang muda yang suka apa saja kecuali belajar berhitung, jatuh cinta dunia Petualangan dan Alam Indonesia. Juga seorang pengagum pohon Bambu dan bunga Dandelion.
Post a Comment