Kisah Air di Tobelo yang Panas

Pesona Pantai Tobelo. foto : rereceh
Panas terik matahari serasa membakar. Kalau sudah begini, air pasti dicari-cari.

Cuaca panas di kota Tobelo memang bukan main-main. Begitu teriknya sehingga muka memerah. Tak ada yang bisa meredamnya selain air, yang dibawa dari mana pun pasti akan diterima dengan lapang hati.

Mungkin benar kata Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman), Abdon Nababan, saat memberi pendapat mengenai festival air Nusantara, yang menjadi bagian pembuka Kongres Masyarakat Adat Nasional (KMAN) IV di Tobelo, Halmahera Utara, Kamis (19/4) lalu.

Menurut Abdon, air bisa menguntungkan dan bisa juga membawa bencana. “Menguntungkan kalau jumlahnya kecil dan datang di saat yang tepat, merugikan bila datang dalam jumlah berlebihan seperti saat bencana banjir bandang,” katanya.

Air pada saat pembukaan kongres menjadi sangat berharga, karena para wakil adat membawa air dari daerah mereka masing-masing, dan kemudian mencampurkannya di tugu air, tepat di depan kantor Bupati Tobelo. Air tersebut datang dari mana-mana. Ada dari Jambi, Maluku, Papua, Kalimantan Barat dan Timur, Jawa, dan Nusa Tenggara. Air yang dicampurkan kemudian menjadi lambang pemersatu hati dan pemikiran para wakil adat tersebut.

Namun, beranjak siang, air menjadi begitu dicari-cari. Itu lantaran panasnya Kota Tobelo akhir-akhir ini. Bahkan mendung yang sempat datang hilang berangsur-angsur menjadi panas terik.


Sayangnya, dalam acara-acara besar, kadang harga air menjadi sangat mahal, bisa sampai dua kali lipat. Bagi para pedagang, orang-orang yang kehausan menjadi sasaran empuk untuk menaikkan harga air, sehingga membuat orang bertambah haus saja.

Harry Surjadi, dedengkot wartawan lingkungan yang sempat kelimpungan mencari air di acara pameran, harus berdecak kagum mengetahui harga sekaleng air kemasan. Namun, dengan senang hati dia tetap membayar, bahkan mentraktir orang-orang yang kebetulan sedang berjalan bersamanya.

Tobelo memang panas. Pantas bila kemudian tenda-tenda acara diberikan pendingin yang bisa bikin sejuk kepala para peserta kongres. Namun di luar tenda, di tengah lapangan, terik matahari serasa membakar. Lantaran terlalu teriknya, mobil pemadam kebakaran sampai diturunkan untuk menyiram lapangan tersebut, dan sedikit membuat sejuk serta meredam debu yang makin banyak beterbangan.

Namun, lucunya saat membeli santapan untuk makan malam, air yang ada di dalam stoples justru sudah terasa dingin. Kata penjualnya, memang kebiasaan di sana seperti itu, mungkin karena terlalu panasnya, dengan sukarela ia menaruh es di dalam stoples minum air besar untuk semua pembelinya.


Uniknya, air di penginapan justru berbeda antara lantai dasar dan lantai dua. Lantai dasar yang notabene berisi kamar dengan AC dan televisi, justru hanya mengucurkan air sangat sedikit, meskipun punya kamar mandi dalam. Justru air di lantai kamar lantai dua, yang harus mandi di kamar mandi bersama, mengucurkan air deras dan bisa untuk berfoya-foya. Di sini disadari kalau air juga kadang memberi rasa adil yang tak terduga.

Kota Tobelo justru diguyur hujan pada dua malam terakhir. Air dari langit tercurah deras tetapi dalam waktu yang sangat singkat. Sesaat ketika hujan pasti banyak orang di Tobelo tersenyum, karena bisa mengusir nyamuk yang banyak dan bandel. Namun dalam hati mereka juga berdoa, agar besok siang air hujan juga datang dan bisa memberi kesejukan di kota pinggir pantai ini.

Sumber : Sinar/shnews.co
Foto : rereceh[.]blogspot / halmaherautara[.]com
Share on Google Plus

About Gidion Yuris Triawan

Petualang muda yang suka apa saja kecuali belajar berhitung, jatuh cinta dunia Petualangan dan Alam Indonesia. Juga seorang pengagum pohon Bambu dan bunga Dandelion.
Post a Comment